Jumat, 01 Mei 2015

Ekhemm



KALAU SAJA
(oleh : Melati Nur Fajriani & Tamara Chrysanthy)

                Aku, Vin dan Rin sejak SMP sudah berteman dekat. Oh ya, aku lupa, namaku Bel. Dekat, sangat dekat. Tapi aku merasa lebih dekat dengan Vin daripada Rin. Aku dan Vin lebih sering bersama, karena aku dan Vin sekelas dari kelas 2 SMP. Di SMA, lagi-lagi aku sekelas dengan Vin. Sedangkan Rin, dia selalu terpisah dengan kami. Kami hanya pernah sekelas di kelas satu SMP. Itulah penyebab aku lebih dekat dengan Vin. Kendati seperti itu, tetap tak sedikit kegiatan yang kami lakukan bertiga.
                Bosan sekelas dengan Vin dari SMP, nyatanya, di kelas 3 SMA akhirnya aku terpisah dari Vin. Dan Rin, dia tetap tidak sekelas denganku ataupun Vin. Tak masalah, kami tetap berangkat dan pulang bersama, rumah kami searah. Hang out bertiga dan selalu menghabiskan waktu istirahat bersama.
                Tapi, pisah kelas dengan Vin membuatku tidak nyaman. Ada yang hilang, kurasa. Bagaimana dengan Rin selama ini? Aku jadi lebih sering merindukan Vin. Haha, itu hal aneh. Ah, mungkin karena aku tidak biasa saja jauh dari Vin.
                Tapi, tidak. Ternyata lebih dari itu. Aku mulai merasakan hal yang lain. Akhir-akhir ini aku mendengar Vin sedang dekat dengan salah satu teman kelasnya. Aku tidak suka itu terjadi. Aku jadi sangat emosional—saat ini sering disebut ‘membawa perasaan—ketika berbincang dengan Vin tentang seseorang yang disukai.
                “Hei, Bel. Adakah seseorang yang kau sukai?” Tanya Vin ketika kami sedang duduk di beranda kamarku. Tanpa Rin. Rin sedang sibuk mengurus klub karatenya.
                Aku tertegun mendengarnya. “Tidak. Tidak untuk saat ini.” Aku sedikit berbohong. “Kenapa? Apa kau sedang jatuh cinta, Vin?” aku mencoba mengalirkan pembicaraan.
                Ia menoleh padaku. Hanya tersenyum. Hei! Itu bukan jawaban. Hening sejenak.
                “Mungkin.” Ia buka suara.
                Deg! Aku cukup terkejut mendengarnya. Ada apa ini. Aku jadi rikuh.
                “Mungkin ya.”  Katanya lagi.
                Aku mencoba tetap santai. “Siapa?” tanyaku. Haha, bodoh. Semoga aku sanggup mendengar jawabannya.
                “Aku belum bisa menjawabnya sekarang, Bel. Aku sendiri belum yakin. Aku merasa aneh akhir-akhir ini jika ada orang itu. Aku jadi salah tingkah.”
                “Kalau begitu, yakinkanlah!” kataku asal. “Sebentar lagi kita lulus, kuharap kau tidak menyesal karena telat menyadarinya, Vin.” Aku memaksakan tersenyum.
                Vin menoleh sebentar padaku. Menatapku. Membuatku canggung, lantas berpaling lagi. Ia menatap langit senja yang mulai gelap keunguan. Dari ekor mataku, kulihat Vin tersenyum. Rasanya saat ini aku sangat ingin menyelami pikirannya.
                ***
                Ujian Nasional sudah berlalu. Dan….aku, Vin juga Rin menghabiskan waktu liburan yang diberikan dengan cara berkemah di salah satu tempat kemah daerah Bogor. Hanya kami bertiga. Aku sangat suka hal ini.
                Kami menyewa dua tenda. Satu untukku dan Rin. Satu lagi tentu saja untuk Vin.
                “Hei! Kalian enak sekali. Tidur berdua. Hangat. Bagaimana denganku?” tanyanya menggoda. Pura-pura memberengut, merajuk.
                “Kau punya tas yang cukup besar untuk kau peluk dan menghangatkanmu, kawan.” Rin menyahut.
                “Apa maksudmu?” Vin merengut kemudian tersenyum jahil. “Aku mau kau, bukan tasku.” Kata Vin sambil mendirikan tendanya sendiri. Rin sendiri hanya tertawa mendengarnya. Aku ikut tersenyum kecil. Teman-temanku ini ada-ada saja.
                Tenda sudah siap. Tenda Vin berdiri—dengan agak aneh—beberapa meter dari tendaku dan Rin. Aku dan Rin menertawakan Vin yang—sungguh—tidak sama sekali memiliki keahlian mendirikan tenda.
                “Ini karena aku membuatnya sendiri. Kalian berdua.”
“Banyak alasan, kau, Vin. Akui saja kenapa sih?”  Rin ikut menghakimi. “Kau ‘kan memang payah dalam urusan begini.”
“Baiklah. Kalian selalu menang dalam hal menghakimiku. Curang. Mana boleh selalu seperti ini. Dua lawan satu.” Vin menggerutu.
“Sudahlah. Ayo kita mengambil air dan mencari kayu bakar.” Aku menghentikan candaan.
“Aku yang mengambil air!!” Vin dan Rin berteriak bersamaan. Lalu saling menoleh.
Rin tidak terima. “Aku yang mengatakannya lebih dulu!”
“Aku!” Vin tidak mau mengalah.
“Aku!!!”
“HHHHHEEEIIII!!!!!!!” aku tidak kalah ikut teriak. “Sudah. Kalian ambil air berdua. Biar aku yang mencari kayu bakar. Berisik.” Aku menggerutu. Vin dan Rin terkekeh melihatku. Sial!
***
Pukul sebelas malam. Api unggun yang kami buat sudah padam sekitar satu jam yang lalu. Yang tersisa tinggal sedikit bara kayu, abu, dan asap tipis yang lebih dulu disergap angin sebelum terbang tinggi.
Aku keluar dari tenda. Rin sudah pulas, sedangkan aku memejamkan mata pun tidak bisa. Aku lirik tenda Vin—yang terlihat rapuh—lampunya menyala. “Vin, apa kau belum tidur?” aku mencoba mencari kehidupan. Tapi tidak ada jawaban.
Aku mendengar suara risleting. Dari dalamnya, muncul kepala Vin. “Belum. Aku tidak bisa tidur. Apa kau juga?”
Aku menoleh. Tersenyum karena ada teman berbincang. “Ya. Aku tidak bisa. Entah kenapa, tapi, aku tidak mengantuk.” Kataku. Udara malam di tempat ini cukup dingin. Aku mengusap lenganku untuk mencari kehangatan.
“Ini. Pakai ini.” Dia memakaikan jaketnya ke tubuhku. Sekarang tinggal kaus pendek yang bertandang di tubuhnya.
“Tidak usah. Apa kau tidak merasakan betapa dinginnya malam ini?” tanyaku sambil mengembalikan jaketnya.
Vin hanya tersenyum. “Pakailah. Aku berani bersumpah aku sangat kegerahan di dalam sana.” Dia menunjuk tendanya.
“Baiklah, terima kasih.”
“Hei, kenapa kau jadi canggung seperti itu?!” tanyanya.
“HEI! Enak saja!”
“Heiii.. tenanglah. Pipimu jangan merah seperti itu.”
Aku malu. Sungguh. Aku diam. Menunduk. Apa benar? Pikirku.
“Hei, Bel. Aku hanya bercanda!” Vin menenangkan.
Fiuhh.
“Bel.” Vin memanggil. Aku menoleh ke arahnya. “Tentang orang yang aku suka.”
“Kenapa?”
“Aku sudah meyakinkan diriku. Aku suka dia, sejak awal aku mengenalnya.” Vin tersenyum. Menerawang.
Aku sedikit risih mendengarnya. Atau bahkan, aku tidak suka mendengar Vin bercerita tentang ini semua. Tapi kupaksakan mendengarnya. Bersikap sewajarnya. “Apa kau mau menyebutkan namanya, Vin?” huuh.. susah payah aku mengatakannya. Aku harus siap-siap mendengar apa yang akan diucapkan Vin.
“Kau kenal Rin, ‘kan?” tanyanya.
Aku mengernyitkan dahiku. Maksudnya apa? Tentu saja aku kenal. Dia teman kami. “Tentu saja.” aku menjawab.
“Ya. Dia. Rin lah orang itu, Bel.”
Deg! Aku tertegun. Perasaan apa ini? Sungguh, apakah.. aku cemburu? Tidak.. harusnya tidak seperti ini.
“Bisakah aku memercayakan cerita ini padamu? Aku ingin kau menyimpannya. Jangan kau katakan pada Rin, ya.” Vin menjelaskan. Senyum di wajahnya masih merekah. “Biar aku. Biar aku saja yang mengatakannya suatu waktu.” Lanjutnya.
“Oh. Ya. Aku akan menyimpannya baik-baik.” Aku masih tidak percaya. Aku ingin kembali ke dalam tenda saja. “Ah, Vin. Sudah malam. Bagaimanapun kita harus tetap tidur. Besok kita akan berkeliling ke hutan, ‘kan?” aku mengalihkan pembicaraan.
“oh, iya. Sudah hampir jam dua belas. Silakan. Sampai bertemu lagi, Bel.” Vin tersenyum. Sedangkan aku hanya mengangguk kecil.
***
Setelah kejadian malam itu, aku terus mencoba bersikap wajar pada Vin dan Rin. Apa aku jadi orang ketiga di antara mereka? Apa Rin merasakan hal yang sama terhadap Vin? Hanya itu hal yang akhir-akhir ini ada di benakku.
Seminggu lagi perpisahan SMA. Vin akan kuliah ke luar kota. Rin kuliah di salah satu universitas swasta. Aku sendiri berniat mencari universitas terdekat. Sementara minggu ini, kegiatan hanya diisi dengan persiapan wisuda. Sesekali diselingi pertemuan dengan kepala sekolah.
Ya.. enam hari lagi…
***
Wisuda sudah selesai. Prestasi teman-temanku ternyata sangat bertebaran. Aku hanya menyumbang dua. Rin meyumbang lima. Vin.. dia belum menyumbang pada kesempatan ini.
“Kita harus mengabadikan momen ini. Kapan lagi kita melihat Rin memakai make-up seperti ini, Vin?” aku berseru riang.
Vin berlari kecil ke arahku. Senyumnya merekah mendengar ucapanku. Setelah Vin datang, kami berlari ke arah Rin.
“Bolehkah aku berdua dulu foto dengan Rin?” Tanya Vin.
Aku merengut. Berusaha terlihat berpura-pura walau nyatanya aku tak suka. “Ya sudah.” Kataku akhirnya. Vin di sana hanya mengerling ke arahku.
Satu foto. Dua foto. Tiga… aku bosan.
“Hei, apa kau benar-benar tidak ingin berfoto denganku, Vin?”
“Oh, maaf, aku terlalu asyik.”
Wajah Rin kini sudah terlipat. Dia terlihat kesal karena banyak yang memintanya berfoto berdua. “Apa-apaan ini?!!! Lihat!! Aku lelahhh….” Yaaaaa.. itu keluhan Rin yang sudah kudengar sejak setengah jam yang lalu.
Aku dan Vin terbahak mendengarnya. Terlebih lagi, wajah Rin sangat pilu.
Setelah puas berfoto, kami mengobrol sekadar membuang waktu sebelum berpisah. “Emm, aku ingin ke belakang. Kutinggal sebentar, ya.” Aku beranjak meninggalkan Vin dan Rin.
Tak lama setelah dari toilet, aku kembali. Aku melihat Vin dan Rin sepertinya sedang terlibat dalam pembicaraan cukup serius. Aku tidak ingin mengganggu. Bukan, lebih tepatnya aku tidak ingin sakit hati karena mengetahui isi pembicaraan itu. Aku pergi berbincang dengan kawan lain. Cukup lama sampai akhirnya Vin memanggilku.
Vin berjalan ke arahku diikuti Rin. Muka keduanya merah. Eh.. sepertinya dugaanku benar.
***
Hari ini Vin akan berangkat. Aku mengantarnya. Tanpa Rin, dia jatuh sakit. Untuk pertama kali aku menangis karena Vin. Dia mendekapku. Menyembunyikanku dari tatapan orang-orang yang berlalu-lalang.
“Hei, Bel, kau kenapa? Tidak seperti ini Bel yang kukenal.” Dia tertawa. “Jangan membuatku merasa bersalah meninggalkanmu.”
“Bodoh! Mana mungkin aku melepasmu begitu saja, Vin? Kau berhutang banyak padaku.”
“Hahaha, akan kubayar semua ketika aku kembali, Bel.” Dia melepasku dari pelukannya. “Sudah, jangan menagis lagi.” Vin merogoh tasnya. Ada dua kotak yang terbungkus kertas coklat polos. Ada namaku di salah satu kotak itu, dan nama Rin di kotak lainnya. “Ini, untukmu. Yang satu ini, aku titip padamu. Aku ragu untuk memberikannya pada Rin, kalau memang sudah ada di tanganmu, semua kuserahkan padamu. Kau bisa memberikannya pada Rin, tapi, kau juga bisa menyimpannya. Tapi jangan kau buka.” Ia menjelaskan panjang lebar.
“Baiklah..” aku menyetujuinya.
“Aku berangkat sekarang, Bel. Jaga dirimu. Aku titip Rin, ya.” Vin tersenyum. Memelukku.
Kali ini aku membalasnya. “Hati-hati. Kabari aku dan Rin.” Aku masih mendekapnya. “Vin..”
“Aku janji tidak akan melupakanmu dan Rin.”
“Vin..” aku mengulang.
“Ada apa?” tanyanya,
Banyak orang yang memperhatikan kami. “Aku mencintaimu..” deg! Aku mengatakannya.
“Ah, Bel, namaku sudah dipanggil.”  Vin melepaskan dekapannya. “Aku benar-benar harus pergi.” Vin tersenyum lagi. “Sampai jumpa!”
Aku masih memandanginya. Menatap punggungnya yang menjauh. Aku yakin, kata-kataku yang tadi tidak terdengar. Sangat yakin. Tempat ini sangat ramai. Sangat berisik. Sangat-sangat.
***
Aku kembali ke rumah. Lantas masuk ke kamar menimang kotak pemberian Vin. Kubuka milikku. Isinya notes lucu dan sebuah boneka hamtaro. Ada pesan di dalam notes tersebut.
Sekarang, yang kutimang adalah kotak untuk Rin. Aku sangat ingin tahu apa isinya. Tapi, aku hargai privasi Rin. Aku memilih memberikannya saja. daripada aku dihantui rasa ingin tahu.
Besok. Besok aku akan ke rumah Rin.
***
Empat tahun berlalu. Kami lulus tepat waktu.
Besok Vin pulang. Aku dan Rin berencana menjemputnya di stasiun kereta. Aku tidak sabar bertemu dengan Vin lagi.
Di Stasiun, Rin duduk dengan tenang. Sebaliknya, aku gelisah, senang dan lain-lain perasaan bercampur menjadi satu.
“Hei, Bel! Aku yakin kau bisa lebih tenang sedikit.” Rin protes melihat tingkahku.
Aku menggerutu. “Tidak bisa.” Kataku kesal.
Rin menyerah. “Ya sudah.”
Kereta datang. Penumpang dimuntahkan dari dalam gerbong. Ratusan, bahkan ribuan jumlahnya. Di mana Vin?
“Bel!” aku mendengar teriakan dari suara yang kukenal. Vin!
Aku menoleh gembira. Tapi, senyum yang awalnya merekah hampir padam ketika aku menyadari bahwa Rin sudah ada dalam rangkulan Vin. “Hai!” aku menyapa seolah berbunga-bunga.
“Bel, aku dan Rin akan menikah.” Kata Vin tiba-tiba. Jantungku seakan ditimpa batu berat dan tajam. Sakit. “Maaf baru mengabarkan ini padamu. Karena semuanya belum pasti sampai bulan lalu.”
“Oh ya? Aku turut senang, Vin. Akhirnya cintamu terbalas.” Kataku sumringah—pura-pura sumringah, maksudku.
Apa-apaan ini? Vin bilang akan membayar semua hutangnya padaku. Nyatanya tidak. Maksudku, hutang itu.. sebuah perasaan yang sama. Bukan.. bukan yang lain.
“Ini semua berkat kau, Bel. Kau memilih memberikan kotak yang kutitipkan padamu untuk Rin. Sebenarnya, isi dari kotak itu adalah surat lamaranku. Terima kasih untukmu, Bel!”
DEG!!!! Betapa hancur hatiku mendengarnya. Semua karenaku, Vin bilang? “Aku turut bahagia.” Aku tersenyum, agak kecut.
Mengapa ini semua terjadi? Kalau saja kotak itu tidak kuberikan, apakah ini akan tetap terjadi? Kalau saja kotak itu tidak kuberikan, apakan Vin akhirnya bisa ‘melihatku’? Kalau saja kotak itu tidak kuberikan, apakah mereka tetap akan bersatu? Kalau saja waktu itu kutegaskan kata-kataku bahwa aku mencintai Vin, apakah Vin akan kembali untukku? Bukan Rin.
Kalau saja aku mengatakan yang sesungguhnya, walaupun tidak terbalas, setidaknya aku lega.
Ah.. sungguh, kalau saja…

30 April 2015, 23 :32 pm

Rabu, 29 April 2015

Kau



Kau
Bukan sesuatu yang pahit untuk diberi pemanis buatan
Bukan sesuatu yang pahit untuk kulupakan
Bukan kau, bukan kau
                Meninggalkanmu sama saja melepas harapanku
                Melepasmu sama saja “itu bukan mauku”
                Adanya kau bukan aku yang mau
                Mengenalmu, begitu saja masuk jalan takdirku
Kau berjalan memunggungiku
Tak pernah kau hadap lurus diriku
Kau pikir aku ‘kan berbalik arah ikut memunggungimu
Tidak akan kulakukan, karna aku ingin menunggu
                Kau, ya, hanya kau
                Bukan dia, bukan juga dia
                Percayalah, hanya kau!

Melati Nur Fajriani, 30 April 2015

Selasa, 28 April 2015

Silverqueen Almond



Aku melangkah mengelilingi teras toko itu. Lagi dan lagi. Bukan bosan. Aku sedang berpikir. Apakah aku harus melakukannya atau membatalkannya saja. aku berjalan menjauhi toko itu. Menghampiri gedung di sampingnya. Lagi-lagi aku hanya berpindah dari satu tempat ke tempat lain tanpa tujuan yang berarti.
                Kini, benda berbentuk balok pipih yang sedari tadi mengganggu pikiranku sudah berada di genggamanku. Lagi-lagi aku memutar langkah. Di mana pula temanku yang satu itu. Aku ingin menitipkan benda ini untuk diberikan pada seseorang.
                Aku masih berdiri, di tempat yang berbeda dari tempat semula. Aku kembali ke asrama. Aku melamun. Apa aku yakin akan melakukannya? Hanya itu pertanyaan yang tersirat di benakku. Banyak orang bertanya apa yang kulakukan tapi aku tidak bergeming. Aku ragu.
                Kini aku kembali lagi ke gedung itu. Gedung yang di dalamnya sedang ada pelaksanaan wisuda. Gedung yang sakral bagi pendatang baru dan yang akan pergi. Itu dia, temanku. Yang akan kutitipkan benda ini untuk diberikan pada seseeorang yang kumaksud. Dan dengan cepat, benda itu sudah berpindah tangan. Dalam perjalanan.
                Perasaanku bercampur aduk. Aku menunggu acara di dalam gedung itu selesai dengan hal yang sama. Melangkah mengitari teras gedung itu sambil sesekali menyambut tamu yang baru datang.
                Acara selesai. Gawat! Eh-maksudku…entahlah. Aku menghindari pintu keluar. Menunggu di depan pintu masuk agar tak bertemu dengan seseorang yang kumaksud. Aku berdiri dengan gelisah.
                “Hei! Dia menolaknya.” Temanku bilang. Deg! Aku panik. “Dia meminta kau memberikannya langsung.” Aku lunglai.
                Ah. Sial. Benda itu kini ada di tanganku lagi.
                Aku memperhatikan orang itu. Menunggu saat dia akan melihatku. Gelisah. Apa yang harus kukatakan nanti? Ah, sudahlah. Yang penting benda ini sampai di tangannya. Sekitar satu jam aku menunggu. Akhirnya, orang itu menghampiriku juga.
                “Hei! Ada apa ini?” Tanya orang itu.
                “Ini, untuk kau.” Aku menyodorkan benda itu. Dia tidak mengindahkannya.
                “Dalam rangka apa?” tanyanya lagi. Hei! Kenapa orang ini sangat menyebalkan.
                Aku gelagapan. “Aku hanya ingin memberikannya pada kau. Apa salah?” tanyaku seadanya.
                “Tidak bisa seperti itu. Bagaimana bisa ada benda itu di mejaku………….blablabla” dia menjelaskan yang bagiku terdengar seperti gerutuan.
                Aku hanya diam. Tidak bisa menjelaskan apa yang sangat ingin kukatakan saat itu juga. Sebelum dia pergi. Tapi, kelu. Aku tetap tidak bisa mengatakan hal yang selama ini kurasakan.
                “Ya sudah. Ini, untuk kau.” Lagi aku mencoba mengulurkan benda itu.
                Senyumnya belum hilang sedari tadi. Oh, ini memang hari yang indah untuknya. “Haruskah kuterima?” pertanyaan yang menurutku--bahkan mungkin menurutnya--pertanyaan yang retoris. Dia pun mengatakannya sambil mengulurkan tangan tanda menerima.
                Kini benda itu benar-benar sudah berpindah tangan. Ya, di tangan orang itu. Yang membuatku gemas akan kelakuannya. Kuakui dia memang baik. Aku sangat berterima kasih karena dia mau menerima benda itu. Setelah kejadian itu, dia pergi. Bukan meninggalkanku, karena memang dia tidak pernah datang untukku. Ya, dia sudah lulus SMA. Aku tersenyum walaupun menangis.
                ***
Beberapa bulan kemudian aku baru tahu, benda yang kuberikan itu adalah kesukaannya.

“’Benda’ yang kau berikan itu kesukaanku. Benar sekali, kau.” Katanya suatu waktu.
“Memangnya apa?” aku sedikit lupa.
“Itu, Silverqueen Almond.”
Diam-diam aku tersenyum.
 

Kamis, 08 Januari 2015

only trying



Melepasmu
Aku ingin melupakanmu
Bersama kepulan abu Semeru
Aku ingin melupakanmu
Meninggalkan jejakmu dalam palung samudera
                Aku ingin menghapusmu
                Menghapus namamu dari sisiku
                Menghapus namamu
                Di atas pasir Gunung Merbabu
Aku ingin kau pergi
Bersama hembusan angin Mandalawangi
Aku ingin menenggelamkan kisahmu
Kupendam di Ranu Panu
                Aku ingin melepas sesakku
                Sesak dada yang meneriakkan namamu
                Ingin kuteriakkan nama itu
                Kuteriakkan di puncak Gunung Lawu
Aku ingin melepasmu
Bersama Dandelion yang kutiup di taman
Aku ingin meninggalkan kenangan kita
Bersama Eidelweiss yang tak akan pernah kupetik jua
                Aku ingin mengubur semua tentangmu
                Bersama mayat-mayat letusan Gunung merapi
                Biar tiada yang tersisa di bumi ini
                Tiada lagi luka yang terperi
Aku ingin melepasmu..
Melati Nur Fajriani, 08 Januari 2015